Plus Minus Pekerjaan Penulis Konten Freelance yang Sebaiknya Kamu Tahu

Fakta penulis konten freelance

Last Updated on: 6th February 2024, 11:02 pm

Bekasi hujan deras hari ini. Dan setiap kali hujan, saya ingat salah satu komentar teman saya, “Lo, mah enak, kerja nggak perlu kemana-mana. Bangun tidur langsung ketak-ketik leppi juga nggak bakal ada yang ngomel.”

Saya cuma bisa menghibur dia dengan berkata jika setiap pekerjaan pasti ada konsekuensinya. Termasuk dirinya yang harus berangkat kerja ditengah guyuran hujan.

Padahal faktanya hidup penulis konten freelance itu nggak selamanya enak dan indah. Pada beberapa hal memang terlihat nyaman, bangun tidur langsung ketak-ketik nggak ada yang ngomel, mau kerja jam berapa pun, nggak ada yang nglarang.

Tapi โ€ฆ

Tetap saja pekerjaan ini punya konsekuensi. Harus bisa penuhi deadlion1, bisa membuat prioritas, mampu menjadi PR sekaligus manajer untuk jasa yang ditawarkan, dan seterusnya.

Fakta penulis konten freelance yang jarang dibicarakan banyak orang

Penulis konten tuh, nggak selamanya freelance lho. Banyak juga yang in-house. Mereka tetap berangkat ngantor, terikat peraturan perusahaan, pendapatan mereka pun pasti setiap bulan.

Beda dengan penulis konten freelance, disatu sisi mereka mendapat keleluasan bekerja, disisi lain ada juga konsekuensinya.

Fakta enak penulis konten freelance

Ada dua fakta tentang penulis konten freelance yang tidak begitu populer di luar sana. Kalau kata orang jawa bilang, “Urip iku sawang sinawang“, apa yang kita lihat tidak selamanya seperti kondisi aslinya. Begitulah hidup di dunia, semua serba seimbang; kalau ada sisi plus, pasti ada negatifnya, nggak ada yang benar-benar sempurna.

Jadi, apa enaknya kerja penulis konten freelance? Cuss, cek di bawah, ya.

Fakta penulis freelance #1. Bebas menentukan waktu kerja

Cuaca lagi mendung, bikin males nulis dan pengen tidur? Ya udah, tidur aja. Minggu depan pengen jalan-jalan? Ya udah, buruan pesen tiket, tinggalin message buat klien, dan cussโ€ฆ. ^_^

Begitulah, sebagai penulis konten freelance, nggak bakal ada yang ngomel saat pengen libur, seharian pengen nge-rerun drakor, atau malah cuma pengen hibernasi selama 6 jam. Semua terserah kamu! Kuncinya hanya pada prioritas. Mana yang harus dilakukan sekarang dan mana yang nanti.

Garis batas kebebasan seorang penulis konten freelance adalah tanggung jawabnya terhadap klien. Dan tanggung jawab itu lah yang akan menentukan prioritas kegiatan atau jadwal seorang penulis konten freelance. โš 

Fakta penulis freelance #2. Bisa kerja dimana aja

Peralatan ngantor penulis konten freelance tuh, cuma koneksi internet dan laptop. Jadi, selama dua hal itu ada, mau kerja dimana aja bisa. Di teras rumah, di lapangan, sambil ngrumpi bareng tetangga, up to you. This world is your office, please enjoy your work.

Fakta penulis freelance #3, Punya banyak referensi pekerjaan

Menjadi seorang penulis konten freelance sama arti punya portofolio dari berbagai klien.

Iya si, menjadi penulis konten yang terspesifikasi itu lebih baik, pekerjaan jadi cepat selesai, kreativitas juga nggak akan macet. Tapi, setiap klien biasanya punya jobdesc yang berbeda, dan tentu aturan yang berbeda pula.

Menjadi seorang penulis konten yang profesional itu seperti seorang artis; harus mampu menulis dengan banyak gaya, point of view, bahkan karakter. And it is fun. Nggak cuma pengalaman, tapi ketrampilan juga akan semakin terasah dengan semakin banyaknya tantangan.

Fakta penulis freelance #4. Semakin banyak referensi, pekerjaan semakin aman

Dari segi pendapatan, sebetulnya penulis freelace itu tidak pernah aman; potensi tidak mendapat penghasilan akan selalu ada. Hari ini bisa saja ramai project, penghasilan melimpah, tapi bisa saja esok hari tidak ada pemasukan.

Namun, seiring dengan banyaknya klien yang masuk, potensi untuk mendapatkan penghasilan bisa membesar. Ini karena pengalaman yang dimiliki juga semakin banyak, tulisan semakin luwes, klien pun lebih mudah diperoleh.

Selain itu, seorang penulis lepas biasanya tidak hanya tergantung dari satu sumber pendapatan (klien), sehingga potensi tidak ada pendapatan pun akan semakin kecil.

Fakta penulis freelance #5. Punya banyak kesempatan menjadi ahli di bidang baru

Market terus saja berubah. Membawa harapan baru, kategori (niche) baru, area dimana seorang penulis konten freelance bisa menjadi expert selalu terbuka lebar.

Contoh paling mudah adalah perkembangan ecommerce, market aplikasi, gaya hidup sehat, kepedulian pada finansial. Area ini membuka peluang penulis konten freelance untuk mencoba niche baru. Terlebih dengan perkembangan AI saat ini; jika dulu kita belum mengenal prompt writer, maka saat ini niche tersebut sudah mulai bermunculan.

Dan seiring perkembangan dunia digital kesempatan munculnya industri baru pun akan terus ada. Bagi para penulis konten freelance, mereka punya kesempatan masuk ke area baru tersebut, tanpa harus repot untuk mundur dari job yang sedang dikerjakannya sekarang.

Fakta enggak enak penulis konten freelance

Sudah ngobrol senengnya, sekarang mari kita diskusikan kekurangan profesi penulis lepas.

Fakta penulis freelance #6. Malas belajar = job melayang

Seperti disebutkan diatas, markets yang selalu berubah, juga menuntut seorang penulis konten freelance untuk terus mau belajar. Well, I must say, this is another hardest part of a freelance content writer; especially when you’re a mom too.

Kesibukan seorang emak aja udah nggak ada habisnya kan? Tapi wajib untuk terus mau belajar, mencoba hipotesa baru, tools baru dan seterusnya. Paling enggak sepertiga waktu seorang penulis konten freelance harus digunakan untuk membaca, mendengarkan podcast, nonton, atau menyerap informasi baru yang akan mengasah kemampuan menulis dan pengetahuan.

Kalau kata temen-temen di Arisan Link V saya ini gila belajar, tapi aslinya ya itu, belajar adalah bagian dari job seorang penulis konten freelance. Kamu berhenti belajar sama arti menghentikan aliran dollar ke PayPal.

Artikel terkait: Tips Belajar Efektif untuk Ibu Rumah Tangga dan Freelancer

Fakta penulis freelance #7. Pekerjaan yang membutuhkan cinta

Ada banyak cara untuk menulis konten untuk situs atau blog; misalnya dengan scrapping, splitting words, atau menulis benar-benar mulai dari nol. Dan saya adalah penulis pada kategori terakhir.

Terus terang, saya bukan penulis konten yang ahli splitting words, it ain’t me at all. Kalau dipaksa hanya mengubah susunan kata, biasanya malah jadi cepet bosan dan akhirnya kena writing block (malah pernah sampai mual karena dipakasa menulis ulang berkali-kali untuk satu topik yang mirip).

Saya lebih suka mencari sumber baru, menulis dari titik pandang baru, atau menambahkan pengalaman pribadi dan hasil wawancara jika ada. Hasilnya, dulu saya sering ketinggalan target temen-temen yang lain. Akibatnya, saya selalu mendapat artikel sedikit dibanding dengan yang lain.

Tapi entah mengapa, saya suka dengan cara saya menulis. Bagi saya pekerjaan ini adalah tentang kepuasan. Saya sudah kadung jatuh cinta dengan pekerjaan ini. Sampai-sampai kalau nggak duduk depan kompi dan ketak-ketik, hidup saya terasa hampa. *lebay mode on

Begitulah, menulis konten tu kadang nggak melulu tentang dapat dollar atau rupiah. Sometimes it’s just about fulfilling your dream, your desire. Karena itu pekerjaan penulis konten freelance ini, butuh modal cinta nulis agar bisa keep going.

Kalau memang nggak cinta banget, sebaiknya jangan milih kerjaan freelance. Khawatir nanti effort-nya akan terasa berat. Energi yang tersedia pun bisa jadi nggak optimal. So, kalau kamu pengen jadi penulis konten freelance, cintai dulu deh dunia kepenulisan, juga siapkan diri untuk mengambil semua konsekuensi yang dibutuhkan.

Fakta penulis freelance #8. Harus berjuang sendiri untuk mendapatkan job

Kalau di perusahaan kan biasanya ada teman untuk dapetin project atau job tertentu, atau malah job-nya sudah jelas, hari ini nulis topik A, besok. Penulis lepas tidak punya itu, semua benar-benar tergantung dari kemampuan diri untuk negosiasi, menjual skill, pengalaman, atau pengetahuan.

Penulis konten seringkali menjadi pilihan ketika seseorang bicara tentang pekerjaan freelance. Ini membuat kompetisi dalam bidang ini semakin tinggi. Jadi, bila pengen jadi penulis konten freelance, kenali value kamu, dan terus asah kemampuan komunikasi, baik lisan maupun tulisan.

No one’s going to hand you any jobs on plate; show your value and be willing to negotiate constantly.

Fakta penulis freelance #9. Harus punya goals biar kerjanya efektif

idak ada jalan yang mudah untuk menjadi seorang penulis konten freelance yang sukses. Tidak ada “7 Tips and Trik untuk Menjadi Penulis Konten Sukses dengan Mudah” yang bisa kamu ikuti dan otomatis menjadikan kamu bersinar diantara penulis konten lainnya. Ada kala kamu harus berjalan, tapi seringkali kamu harus berlari.

Rentang job atau project seorang penulis konten freelance memang luas. Tapi tetap saja kamu musti sense yang kuat untuk dapat tahu apa yang dibutuhkan oleh klien. Entah itu back ground pengetahuan, pengalaman, atau apa aja yang bisa bikin klien kamu puas.

Jadi, buat goals yang pasti, misi yang jelas, kamu pengen drop di jenis job yang mana, kategori apa, bidnya berapa dan seterusnya. Tentu saja kamu juga harus memastikan jika value kamu sesuai dengan goals-goals itu.

Fakta penulis freelance #10. Harus mengupayakan dana cadangan sendiri

Ya namanya manusia, tentu nggak selamanya dalam kondisi fit kan, ada kala sakit, sekedar butuh refreshing, atau malah lagi kena writers block. Sayangnya, penghasilan penulis konten freelance itu benar-benar ditentukan oleh usaha yang sudah dikerjakan. Kalau kamu kerja kantoran, dan lagi nggak mood atau sakit, kamu masih bisa dapat gaji, ada tunjangan ini itu, dana pensiun de el el.

Beda halnya dengan pekerja freelance; sekali kamu nggak nge-draft, kamu nggak dapat gaji. End!!! ๐Ÿ™

Jadi, siapkan selalu dana cadangan pribadimu. Terserah si, mau kamu sisihkan berapa. Nah, saat kamu butuh istirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kamu masih punya dana cadangan. Ada banyak cara agar kamu bisa punya dana cadangan. Artikel lama saya “Dana Cadangan bagi Freelancer” mungkin bisa bantu kamu untuk menentukan pilihan.

Fakta penulis freelance #11, Susah untuk menyeimbangkan hidup

Seperti disebutkan di poin ke-10, bagi pekerja freelance, sekali nggak kerja sama arti nggak gajian. Deadlion yang kadang datang beruntun mau tidak mau harus dikerjakan. Nggak peduli weekend, hari libur nasional, atau kapan pun.

Saat bilang pengen liburpun, seringkali pekerja freelance, utamanya penulis konten, nggak bisa jauh-jauh dari dunia nulis. Jadi, sebetulnya susah mencari waktu yang bener-bener nggak mikirin kerjaan atau sekedar berhenti dan jauh-jauh dari urusan nulis.

Fakta penulis freelance #12. Harus bisa jadi PR, marketing, manajer, plus akuntan

Begitu kamu milih jadi penulis konten freelance, artinya kamu sedang memulai “bisnis” baru. Kamu harus bisa jadi marketing yang andal menawarkan ketrampilan, jadi PR yang pandai branding, manajer yang ngatur jadwal post, ngrencanain step ke depan, ngecek setiap pekerjaan bisa jalan dengan baik, dan seterusnya.

Tak kasih bocoran yo, paling sedih itu kalau lagi berprofesi sebagai akuntan, ngitung hasil kerja, potong pajak, dana darurat, biaya operasional, dan ternyata hasil kerja jauh dari impian. *Ahโ€ฆ lap keringat -_-

Fakta penulis freelance #13. Kamu bisa aja nggak punya temen

Ini beneran lho, coba siapa yang mau jadi temen nulis di jam satu pagi? Buka sosmed juga sepi, open chat paling juga dijawab sambil setengah tidur.

Nggak cuma itu, kalau lagi deal kerjaan, nggak ada temen yang bisa diajak ngrayain bareng. Lagi gagal job pun bakal bingung nyari pundak buat sandaran. Ya gitulah, you could be so lonely, very lonelyโ€ฆ

Inilah fakta plus-minus profesi penulis konten freelance, nggak seindah gambaran di media sosial, apalagi Google. #nosugarcoat. Karena itulah, siapkan diri sebaik-baiknyanya sebelum kamu memutuskan untuk memilih pekerjaan ini.

Semoga bermanfaat, and welcome to the jungle! 8|

Show 28 Comments

28 Comments

  1. Kalau irt seperti aku, emang freelance bisanya. Lagipula seru gitu kalau freelance, istilahnya melatih diri buat disiplin. ๐Ÿ˜ฎ

  2. Tapi lebih asyik freelance sih. Menantang. Apalagi sebagai ibu rumah tangga. ๐Ÿ˜ฎ

  3. Hihihihihihi, suka dukanya memang lumayan. Tapi tetap bisa dinikmati. :'D

  4. apaun itu profesi nya yg penting dinikmati aja dan bersyukur

  5. lengkap sekali Mbak. bener kalo harus terus belajar, sesibuk dan serempong apapun. Selain membuka wawasan, menambah skill juga ๐Ÿ™‚
    Salam kenal ๐Ÿ™‚

  6. Halo mbak Wahyu, salam kenal juga.

    BEtul mbak, pekerjaan apapun memang seharusnya terus belajar ya

  7. Mauu tau ceritanya wkt awal merintis, cari jobnya bgmn n dmana mbak'e? Trus kok freelance dipotong2 pajak jg. Pajak opo to?

  8. yang jelas pekerjaan apapun pasti menyenangkan jika dijalani dengan ikhlas ๐Ÿ˜€

  9. Iya termasuk untuk ngeblog juga ya, Mba Wit. Aplikasi edit ini itu dan tekhnik nulis mesti upgrade terus. Harus semangat belajar biar nggak tergilas persaingan, haha…

  10. iya mbak-e. tapi kalo pas sepi job aku suka kangen kerjaan kantoran je ha ha ha

  11. yo kayak yang lain mbak-e, gabung agensi, trus kesana-sini baru akhire berani cari sendiri.
    biar freelance juga ada pajak penghasilan lho

  12. utk poin terakhir, jadi bukan hanya penulis fiksi yg merupakan pekerjaan paling kesepian di dunia ya… penulis konten juga termasuk merasakannya ๐Ÿ™‚

  13. hmmm kalo aku apalah-apalah…masih belajar ngeblog, ini pun kalo luang wkwkwk…nice share mbak..

  14. Haha point 13 bener banget! Dulu pas aku kerja di kantoran bisa kongkiw2 rumpi at as an kalo pas suntuk ati sebel. Skrg pas freelance writer mau curhat am a siapa yak…ujung2nya sih nulis di blog haha

  15. Saya pernah baca dari blog luar mbak. Dia fully freelancer. Dan di awal dia selalu menekankan kalau kita harus siap dengan tujuan dan juga target, seperti yang mbak bilang.
    Nice share mbak. Moga bisa menjadi masukan untuk yang mau jadi freelancer.

  16. Iya mas, saya juga belajar banyak dari mereka. Profesional banget pokoke.
    Btw, makasih ya dah mampir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *