Cara Agar Proses Menulis Kontenmu Menyenangkan; Sebuah Ide dari Buku So Good They Can’t Ignore You

tips menulis yang menyenangkan

Last Updated on: 14th May 2024, 06:54 pm

Beberapa hari lalu, saya meninggalkan komentar pada salah satu post Instagram DailySEO jika sejak Google meluncurkan algoritma EEAT, saya merasa jika proses menulis konten terasa menjadi semakin mudah, dan menyenangkan. Tidak seperti dulu, saat SEO content writing mewajibkan meletakkan frasa tertentu dalam artikel.

Tidak disangka, saya mendapat tanggapan dari salah satu pengikut DailySEO. Beliau meminta saya berbagi cara menulis yang menyenangkan.

Saat membaca komentar tersebut saya seperti mendengar suara jangkrik di dalam kepala, “Krik, krik, krik.”

Jujurly, saya tidak berpikir akan mendapat pertanyaan seperti itu. Menurut saya, ketika memutuskan menjadikan menulis sebagai profesi, itu artinya menulis memang passion. Sehingga saat harus menulis topik yang sulit, kita tetap bersemangat dan termotivasi untuk menyelesaikannya, bukan?

Itulah mengapa saat mendapat pertanyaan tersebut, saya malah ngeblank, bingung harus menjawab apa.

Tapi saya menyadari, menjawab pertanyaan tersebut dengan “Karena menulis adalah passion saya” tidaklah tepat. Menurut saya, sebuah tips yang diawali dengan “kelebihan pribadi” (dalam hal ini passion), tidak akan bisa diajarkan. Karena akan ada circumstances (terj.: hal-hal yang di luar kendali kita) yang mempengaruhi.

Jadi, saya mencoba melihat kembali apa iya, saya selalu merasa happy saat menulis konten? Benarkah sesulit apapun tulisan tersebut motivasi saya untuk menyelesaikannya selalu tinggi?

Rahasia menuju pekerjaan yang bermakna; sebuah pelajaran dari buku So Good They Can’t Ignore You

Saat membaca pertanyaan tersebut, saya teringat buku Cal Newport yang berjudul, So Good They Can’t Ignore You.

Buku yang berisi penyangkalan Cal jika untuk mencari kebahagiaan dalam bekerja, kita perlu bekerja sesuai passion.

Menurut Cal, bekerja sesuai passion yang saat ini banyak diagungkan oleh banyak orang, merupakan nasehat yang tidak masuk akal.

Passion bukan rahasia kebahagiaan dalam bekerja

Penelitian ilmiah, perjalanan karir para orang sukses telah memberikan bukti, jika tidak ada kesuksesan dan kebahagiaan yang hanya mengandalkan passion aja. Ada banyak hal yang mempengaruhi dalam perjalanan karier setiap orang.

Cal mencontohkan perjalanan karir Steve Jobs yang, notabene, sering dijadikan rujukan untuk bekerja sesuai passion.

Ada sebuah cerita dibalik nasehat “jika untuk bahagia bekerja, kita perlu bekerja sesuai passion.”

Nasehat tersebut sebetulnya berasal dari pidato Steve Job pada saat acara kelulusan sarjana Stanford di tahun 2005. Di saat itu, Jobs menyarankan agar para sarjana tersebut kelak mencintai pekerjaan yang mereka lakukan. Karena dari rasa cinta pada pekerjaan itulah mereka akan merasakan kebahagiaan saat bekerja.

You’ve got to find what you love…. [T]he only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking, and don’t settle.

Steve Jobs

Artinya, ketika pekerjaan saat ini terasa tidak menyenangkan, cobalah cari, dibagian mana dari pekerjaan itu yang bisa membuat kita “jatuh cinta”.

Contoh dari pengalaman pribadi saya. Jujur saja, saya tidak menyukai media sosial. Meskipun saya tahu media sosial penting dalam pekerjaan digital marketing. Saya juga tahu jika ingin excel di kategori content marketing, saya perlu aktif di media sosial.

Tapi, bagi saya, berlama-lama di media sosial seperti mengijinkan waktu saya untuk menyimak hidup orang lain. Dan itu terasa sangat melelahkan. Terlalu menguras energi untuk saya. Hanya saja, saya menikmati mengamati perilaku orang lain, belajar dari pengalaman hidup mereka. Karena itulah, saya bisa tahan menyimak konten media sosial selama durasi tertentu. Dengan catatan, konten tersebut memang bermanfaat, tidak hanya sekedar melirikkan mata kanan kiri, atau menggoyangkan badan. (Mianhe, temen-temen kreatorku. 😀 )

Kembali ke Steve Jobs. Sayangnya, reportase resmi dari Stanford perihal pidato Steve Jobs malah menekankan pentingnya mengejar impian bagi mereka yang baru lulus kuliah. Disinilah kemudian awal dari kesalahpahaman tersebut. Anggapan bahwa passion adalah kunci dari kebahagiaan dalam bekerja meluas hampir ke seluruh dunia.

Ironinya, jika kita menilik kembali perjalanan karier Jobs hingga menjadi seorang founder Apple, kita akan menemukan bahwa, dia tidak mendulang kesuksesannya semata karena passion. Passion Steve Jobs adalah mempelajari dunia spiritualitas, bukanlah teknologi dan elektronik.

Hal inilah yang mencoba Cal sanggah dalam bukunya, passion bukanlah segalanya dalam kebahagiaan karier.

Lalu, apa hubungannya dengan pertanyaan untuk saya di atas?

Jawaban pertama yang saya pikirkan saat membaca komentar pengikut DailySEO adalah “Tentu saja aku sangat menyukai menulis. Bahkan seandainya aku bukan content writer, tentu aku akan tetap menulis. Menulis dan aku tidak bisa dipisahkan. Writing is my passion. Dan itulah yang membuatku bisa menulis dengan menyenangkan.”

Namun, jawaban itu saya urung sampaikan, karena ingat apa yang Cal tulis dalam bukunya. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas: sebuah pekerjaan, karier, yang hanya berlandaskan passion (rasa suka, cinta) biasanya tergantung pada situasi tertentu (dan biasanya di luar kendali kita). Karenanya, tips “kamu perlu bekerja sesuai passion atau menjadikan pekerjaanmu sebagai passion” , sangat tidak relevan untuk dijadikan standar … how to tips misalnya.

Alternatifnya, kita bisa mengikuti pendapat Cal untuk mulai mengadaptasi mindset seorang pengrajin (the craftsman mindset).

The craftsman mindset, cara untuk membuat proses menulis konten (dan pekerjaan lainnya) lebih menyenangkan

Sebetulnya, saat menjadikan content writing sebagai profesi, jujurly, teman-teman nggak akan pernah lagi merasa enjoy saat menulis.

Tidak berarti saya menarik pernyataan sendiri. Tapi ciyus, saat harus menulis dengan topik, jumlah kata, sudut pandang, hingga beberapa frasa yang sudah ditentukan; rasa menyenangkan itu akan hilang. Satu-satunya hiburan sepertinya saldo ATM yang sebentar lagi akan bertambah. 😀

Dan saya mesti jujur, seberapa pun cintanya kamu dengan proses menulis (highlight kata “proses” nya, ya), dan segede apapun passion kamu pada dunia kepenulisan, saat hal tersebut sudah menjadi pekerjaan, akan ada momen menulis menjadi terasa tidak menyenangkan lagi.

Seperti dulu saat saya menulis artikel Fakta Penulis Konten Freelance”. Saya membutuhkan waktu hampir 3 hari agar memenuhi standar SEO namun tetap enak dibaca. Disaat itu saya merasa sebal, dan sungguh tidak produktif. Tapi begitu artikel kelar, duh, rasanya satisfying banget.

Sehingga, ketika melihat perjalanan karier portfolio freelance selama 10 tahun terakhir, saya menyadari bahwa rasa tidak nyaman, kejaran deadline, target pencapaian setiap bulan; telah membantu saya mengenali diri sendiri lebih baik. Sebagian tulisan saya, juga banyak membantu orang lain mengubah dan menentukan pilihan mereka.

Dan saya menyadari, pencapaian itulah yang kemudian membuat saya tidak lagi menjadikan tantangan saat menulis konten maupun tantangan bekerja freelance sebagai sebuah beban.

Simply, it is what it is. Nulis, ya nulis aja, kalau harus riset, membuat outline, editing, semata adalah proses yang harus dijalani dalam bekerja dan memberikan manfaat atau makna kepada sesama.

Artinya, jika teman-teman ingin menemukan kebahagiaan saat bekerja, berlatihlah terus. Tidak hanya sekedar mengulang-ulang pekerjaan tersebut; tapi juga melakukan review dan mencoba sistem baru. Cobalah untuk menjadi terbaik pada pekerjaan tersebut, sampai orang lain tidak bisa mengabaikan hasil pekerjaan kamu lagi (So good, thus they can’t ignore you).

Teruslah menulis. Kenali seperti apa perasaanmu saat menjalani proses tersebut. Catat berapa lama waktu yang kamu butuhkan saat menulis satu artikel, seperti apa hasilnya, bagaimana tanggapan orang lain atas tulisanmu, dan seterusnya.

Seperti gitaris bass Jordan Tice ceritakan pada Cal. Saat tidak ada jadwal manggung, dia akan berlatih dua hingga tiga jam sehari hanya untuk beberapa line notasi. Notasi itu mainkan dengan kecepatan berbeda-beda, hingga menemukan ritme yang paling tepat.

Menurut penelitian Amy Wrzesniewski, professor ilmu perilaku manusia, karyawan yang paling bahagia dan paling bersemangat bukanlah mereka yang mengikuti passion mereka hingga mencapai suatu posisi; melainkan mereka yang telah bekerja cukup lama untuk menjadi ahli dalam apa yang mereka lakukan.

Jika kita renungkan, pendapat ini sangat masuk akal. Contohnya, jika kita seorang pemain gitar. Setelah bertahun-tahun bermain gitar, kita akan memiliki perasaan mampu bermain dengan baik. Dan selama kurun waktu tersebut, bisa saja kita mendapat penghargaan dari juri dalam kompetisi musik yang membuat kita merasa telah berhasil dalam melakukan pekerjaan tersebut. Semakin lama kita berlatih, semakin terampil kita memainkan gitar. Terlebih jika kemudian mendapat umpan balik positif seperti pujian atau prestasi yang diraih. Semakin yakinlah kita pada kemampuan dan keterampilan kita.

Keyakinan “mampu” inilah yang sebetulnya bisa menjadi bahan bakar untuk mengatasi hambatan dan melakukan pekerjaan dengan menyenangkan.

Jadi, ketika saya menuliskan komentar “proses menulis menjadi terasa menyenangkan” ini karena saya telah mampu mengatasi hambatan menulis yang sesuai kaidah SEO namun tetap nyaman dibaca. Sehingga ketika algoritma Google berubah, lebih fokus pada pengguna, saya merasa lebih bebas berekspresi, bermain dengan kata, dan hasilnya; saya mampu menulis konten dengan rasa yang lebih menyenangkan. Tidak ada rahasia atau tips and trik khusus untuk melakukannya. Just follow the craftsman mindset, and you’ll get there.

Semoga membantu! 🙂

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *