Weekend kemarin, usai nulis satu-dua paragraf di aplikasi journaling, saya merasa sedikit lega. Pegal dan lelah karena kesibukan tanggung jawab dan pekerjaan, seolah lenyap setelah sebagian besar cerita di kepala berpindah ke media lain. Di moment itu, tiba-tiba saya terpikir, mungkin journaling bisa menjadi alternatif me-time yang efektif bagi ibu.
5 Menit Journaling untuk Kembalikan Senyum Ibu
Seorang Ibu seringkali tidak punya banyak waktu untuk beristirahat. Kesehariannya seringkali terisi- dengan satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Dan seakan semua itu belum cukup, seorang Ibu seringkali harus berpikir cepat, strategis, agar semua hal yang menjadi tanggung jawabnya bisa berjalan dengan semestinya.
Mulai dan spp sekolah yang harus di bayar, pulsa listrik yang sudah menyanyi dari pagi, dan si bungsu yang sedang yang sedang kehilangan kaos kaki. Setiap pagi, Ibu perlu teliti menyusun workflow, agar bekal selesai begitu sarapan juga siap terhidang. Agar anak tidak panik saat bersiap, berangkat dengan bahagia.
Seandainya bisa diintip, jalur pikiran seorang ibu mungkin lebih sibuk dari jalur transportasi Hongkong atau India. Tidak heran jika Ibu kadang jadi mudah marah, karena stres dan kelelahan mental. Akibatnya, kemampuan otak untuk mengontrol respon, emosi, pikiran yang jernih pun menurun. Dan di momen inilah seorang ibu akan butuh mekanisme “reset”
Journaling, alternatif me-time ibu yang sat set
Dalam ranah produktivitas, salah satu faktor yang paling penting adalah kejernihan pikiran. Pikiran yang penuh, tidak hanya mengganggu kreativitas, tapi juga fokus. Di beberapa post produktivitas saya juga sering mengibaratkan aktivitas ini dengan kebiasaan Albus Dumbledore yang menyentuhkan tongkatnya di kepala, “mengambil isinya”, dan kemudian meletakkan isi pikiran (memori) di dalam sebuah pensieve.
Seperti Albus Dumbledore, journaling bisa menjadi escaping momen untuk seorang ibu. Saat journaling, ibu bisa memindahkan kekhawatiran, daftar tugas, dan emosi yang belum diproses. Hasilnya, ibu akan mampu kembali berpikir jernih, karena hal-hal yang rumit dan terikat satu sama lain, kini bisa diurai, dilihat satu persatu, sehingga prioritas dan flow atau “arah” aktivitas kini menjadi jelas.
Journaling pun bisa dilakukan ibu kapan pun saat ibu memiliki waktu luang, meski itu hanya 5-10 menit. Ibu bisa mengambil selembar kertas atau membuka app catatan di gadget untuk mengeluarkan keriuhan di pikiran.
Saat mendengar kata “Journaling” sebagian ibu mungkin akan merasa jika kegiatan ini harus dilakukan dengan tenang, dan duduk berlama-lama di meja, menghiasi buku dengan berbagai sticker, huruf yang indah, dan gambar-gambar lucu.
Faktanya, tidak ada aturan baku dalam journaling. Inti dari journaling adalah memproses, merefleksikan, dan mengatur pikiran serta emosi di atas kertas (atau media lain), sehingga menghasilkan kejernihan mental, kesadaran diri, dan kesejahteraan emosional. Dengan kata lain, journaling adalah alat untuk lebih memperhatikan kondisi internal kita, pikiran, emosi, dan perasaan kita. Menghias journal bukanlah hal yang wajib, meskipun kegiatan ini juga bisa menjadi sarana rekreasi dan salah satu bentuk brain dump juga.
Journaling bisa menjadi rekreasi yang sempurna untuk ibu karena:
#1. Tempat atau ruang pribadi ibu bebas interupsi
Seorang ibu seringkali menghabiskan waktunya untuk merawat dan memenuhi kebutuhan orang lain. Meluangkan waktu menulis journal 5-10 menit ibarat masuk ke sebuah ruang, dimana semua momen itu adalah milik ibu. Tidak ada yang meminta perhatian ibu dan juga tidak ada yang mengatur. Kegiatan tersebut semua dari dan hanya untuk ibu.
#2. Ruang melepaskan stres dan beban mental
Kesibukan peran seorang ibu, seringkali membuat pikiran ibu terasa penuh dengan daftar tugas, rasa khawatir, bahkan emosi yang belum diproses. Menuliskan semua itu di atas kertas — entah itu rasa syukur, frustrasi, ide cemerlang, atau kekesalan kecil — bisa membantu ibu melepaskan beban mental. Proses ini membantu mengeluarkan isi pikiran dan emosi dari kepala, sehingga mengurangi stres dan membantu pikiran menjadi lebih jernih.
#3. Sarana untuk refleksi diri dan pertumbuhan
Me-time, waktu untuk memperhatikan diri sendiri, sebetulnya tidak hanya untuk bersenang-senang, melainkan untuk memulihkan dan mengisi ulang energi. Journaling memungkinkan ibu untuk merefleksikan kembali perjalanan, baik sebagai ibu dan individu.
Saat journaling ibu bisa mencatat pencapaian kecil, tantangan, juga pelajaran atau hikmah yang didapat dalam aktivitas sehari-hari. Refleksi bisa memberikan perspektif baru, rasa punya kendali pada diri yang lebih kuat, serta pengakuan atas kekuatan diri sendiri. Dan semua hal ini bisa mmebantu ibu memulihkan semangat.
#4. Ruang berkreasi dan ekspresi
Journaling tidak harus selalu berupa tulisan naratif. Ibu juga bisa melakukannya dalam bentuk puisi pendek, foto, sticker, atau potongan-potongan gambar yang ibu anggap berharga. Ibu bisa menjadikan journaling sebagai sarana untuk mengekspresikan kreativitas yang mungkin terpendam karena kesibukan sehari-hari.
Tahukah ibu, beberapa pengguna threads bahkan punya “junk journal”? Junk journal ini biasanya berupa potongan kemasan produk tertentu yang mereka konsumsi. Tidak ada maksud mereka ingin menumpuk sampah, namun kegiatan ini merupakan sarana rekreasi dan “cara bercerita” aktivitas keseharian mereka.
Singkatnya, journaling adalah bentuk rekreasi yang fleksibel (bisa dilakukan kapan saja, di mana saja), terjangkau, dan produktif (karena bisa untuk memproses emosi).
Tapi bagaimana cara memulainya? Berikut beberapa ide dari saya untuk ibu
Jenis dan cara memulai journaling untuk me-time ibu
Salah satu guru saya pernah mengatakan, istilah journal dan diary seringkali digunakan secara bergantian. Perbedaan keduanya ada pada aspek tujuan dan tema atau fokusnya. Perbedaan ini bisa kita rasakan saat kita menggunakan journaling sebagai bentuk self-care. Diary umumnya berupa dokumentasi kronologi dan/ atau pelampiasan emosi. Sementara journal biasanya lebih terstruktur, reflektif, analitis, dan biasanya berusaha mencari insight atau solusi.
Jika diary umumnya hanya merekam satu peristiwa dan emosi yang terjadi di hari itu; journal memecah menjadi tema yang spesifik. Karenanya ibu akan sering mendengar gratitude journal, emotional journal, mindfulness journal, bullet journal, dan masih banyak lagi.
Lalu apa yang terbaik untuk ibu?
Menurut saya, Journaling untuk ibu tidak perlu formal atau kaku. Journal yang terbaik adalah yang paling mudah ibu lakukan secara konsisten di tengah kesibukan ibu. Daripada memilih satu tema saja (misalnya emosi atau insight), Ibu bisa membuat jurnal yang fleksibel dan mencakup keduanya, tergantung apa yang paling Ibu butuhkan pada hari itu.
Berikut 3 contoh format jurnal yang sangat efektif dan praktis untuk ibu:
- The three-in-one quick check; Isinya bisa berupa satu hal terbaik yang ibu rasakan hari ini, satu emosi dominan yang ibu rasakan hari ini, dan pembelajaran (insight, hikmah, atau hal baru yang ibu pelajari)
- Gratitude journal; Tiga hal yang membuat ibu bersyukur hari ini
- Emotional journal; Journal untuk melepaskan emosi
Fokus dari kegiatan ini adalah ibu punya cara untuk mengistirahatkan pikiran, karena itu selain pilih yang paling mudah, lakukan juga tiga hal ini:
- Batasi waktu menulis 5-10 menit saja. Ibu bisa melanjutkan lebih lama jika memang waktu sedang luang dan/ atau telah terbiasa melakukannya
- Jadikan ritual, misalnya dengan meletakkan buku dan pulpen di tempat yang mudah terlihat, dekat tempat tidur. Jangan lupa tetapkan waktu untuk menulisnya. Pilihlah waktu yang sekiranya ibu benar-benar punya waktu untuk berdiam sejenak, tanpa dikejar aktivitas lanjutan
- Jangan perfeksionis. Melihat journal yang cantik dengan aneka sticker memang menyenangkan. Namun, lebih baik fokus pada tujuann dan manfaat journaling dulu.
Perlu diingat, ketika memulai sebuah kebiasaan baru, jika kebiasaan itu semakin sulit dan rumit dilakukan, akan semakin sulit pula mempertahankan konsistensi melakukannya.
Jadi, pilihlah format yang paling mudah dan paling cepat untuk dimulai. Semoga bermanfaat ibu, sampai jumpa di artikel produktivitas lainnya.
Artikel terkait: Reset Routine Cara untuk Mengembalikan Semangat Kerja





Dengan nulis jurnal, ibu-ibu bisa mengenali tren tentang apa yang dipikirkannya selama ini. Ini penting buat ibu-ibu yang terlalu sering mengatur hal-hal di luar dirinya, sampai lupa memonitor hal-hal internal yang terjadi di kepalanya.
Betul, journaling bisa seperti brain dump bagi para ibu