reset routine alternatif me-time ibu
produktivitas

Reset Routine; Cara untuk Mengembalikan Semangat Kerja

Yeay, Weekend! Time for weekly review!

Sudah dua minggu ini weekly review saya agak spesial, karena saya sedang mengadaptasi cara mengembalikan semangat kerja dengan reset routine.

Btw, pernah dengar tentang reset routine? Saya juga baru dengar, kok, tepatnya baru dengar dari kanal Rowena Tsai, yang banyak mengulas self care, dan segala hal yang berkaitan dengan pengembangan diri.

Nah, awal bulan ini, saya nyimak videonya tentang reset routine. Dan saya lihat, sepertinya oke untuk mengembalikan semangat kerja, atau memotivasi kita untuk kembali “ke jalan yang benar” (jalan produktif lagi, maksudnya ).

Reset routine, cara mengembalikan semangat kerja

Pernah mengalami selama seminggu agendanya isinya deadline semua? Sampai semua kerjaan rumah dipinggirin, kerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 lagi, kalau perlu lembur, sampai lupa makan buah dan sayur. Giliran tengok kaca, huaa… langsung lihat wajah nenek disana; mata panda, kulit layu, jerawat nongol, aduh! Auto ingat harga SeKeTu. Pas libur, bawaannya pengen tidur melulu, scrolling social media, kepoin EXO, nggak peduli cucian numpuk dan besok nggak ada baju bersih. Kabarnya begitu tuh, tandanya tubuh kita sudah capek, dan waktunya untuk di-reset, disetting ulang agar bisa berfungsi normal.

So, yuk lakukan reset routine

Jadi gini, reset routine itu kegiatan yang kita lakukan untuk mengembalikan lagi mood, motivasi, semangat, you name it. Seperti sebuah gadget, atau peralatan lain yang pengaturannya kita reset lagi. Dan routine berarti melakukan resetting itu rutin kita lakukan. Tujuannya, selain bantu kita tetep on track, cara ini juga membantu kita menjauhi stres berlebih.

Reset routine sebetulnya berawal dari tindakan resetting life, sebuah tindakan untuk memulai kembali hidup kita. Resetting life biasanya dilakukan saat hidup kita terasa jauh dari keinginan kita, sampai mungkin kita nggak kenal lagi siapa diri kita, apa yang kita mau dalam hidup kita, dan ujung-ujungnya benci diri sendiri. Hidup gue kok gini-gini, aja ya? Gue yang kurang sajen, atau hidup terlalu sinis sama gue? #GueyangNelangsa

Nah, untuk mengembalikannya lagi ke jalur yang seperti kita inginkan, maka kita perlu untuk merumuskan keinginan, merencanakan ulang, dan mengembalikan semua hal-hal yang sudah melenceng ke tempatnya semula. Kadang, meski kita sudah punya tujuan, visi dan misi hidup, banyak hal yang seringkali tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Dan akhirnya kita merasa burn out, stres, dan semua yang ada di hidup terasa nggak bener, and so on. Disaat itulah reset itu diperlukan.

Cara melakukan reset routine

Seperti saat kita pengen resetting life, di reset routine ini, kita juga perlu kembali ke diri kita, menentukan lagi apa yang kita mau, dan kemudian melakukan koreksi dan merencanakan ulang semua hal seperti yang kita inginkan. Kenapa disebut routine, karena cara ini bisa dilakukan berulang kali. Ya, istilahnya biar kita tetep on track, gitu.

Dan kalau ngikutin tips Rowena, ada 3 langkah yang harus kita lakukan saat melakukan reset routine

1. Kenali perasaan kamu alias self awareness

Langkah pertama adalah mengenali apa yang kita rasakan, dan alasannya. Istilah gampangnya, cari tahu, akar masalahnya.

Saran saya sih, kalau bisa ditulis dikertas. Menulis membuat masalah kita akan terpetakan dengan baik. Nggak perlu sampai sepanjang artikel, kalau mau cukup seperti analisa sirip ikan, mind map, atau metode lainnya. Gunakan saja metode apapun yang penting membantu temen-temen mengenali perasaan yang saat ini sedang dirasakan.

2. Tentukan masalah dan solusinya

Jika masalah sudah terpeta, tentukan bagaimana Sahabat akan menyelesaikannya.
Contoh di kasus saya, nih. Sudah dua minggu ini deadline artikel review saya tertunda. Saya pikir akan dapat menyelesaikannya di minggu kedua, tapi malah baru sampai proses editing. Itu pun belum benar-benar selesai.

Kesel banget rasanya, karena artinya, review yang kedua pun (termasuk trasferan ) jadi tertunda. Self critic saya datang lagi, saya mulai merasa negatif, overthingking, juga mulai mempertanyakan lagi akuntabilitas saya dalam bekerja.

Identifikasi saya, yang pertama karena saya terlalu semangat melakukan reset di hari minggu sebelumnya (Ahad, tanggal 8 Februari) karena ingin sempurna di minggu yang akan datang, saya membereskan semua setrikaan dan cucian. Sampai akhirnya saya baru tidur jam 12 malam. Keesokan paginya saya bangun dengan kepala berat, mata ngantuk, badan jadi agak anget karena kurang tidur, dan nggak ada semangat untuk beraktivitas.

Kalau lagi low banget, biasanya olahraga bisa bikin mood saya sedikit baik, tapi sepertinya, hari Senin itu saya benar-benar capek, secapek-capeknya. Bahkan sudah pakai sepatu olahraga saja, saya merasa berat untuk bergerak. Akhirnya ya, udah, cuma tidur, dan nulis artikel pendek saja.

Nah, dari masalah tersebut, saya bisa menilai, jika di weekend berikutnya, kegiatan weekend saya musti moderate, alias sedang-sedang saja; lebih terencana, dan lebih disiplin dengan the-no-to-do-list.

3. Do the things

Setelah ketemu masalah dan solusinya, saatnya melakukan action!

Ada beberapa cara yang Rowena Tsai sarankan, salah satunya adalah doing nothing, dan melakukan hal-hal yang kita suka. Istilah gampangnya self care-lah. Wujudnya bisa macam-macam; mulai dari nonton K-drama, melakukan perawatan diri, baca buku, hang out sama teman, dan lain sebagainya.

Buat saya, “doing nothing” ini kegiatan yang cukup menantang. Sebagai pekerja freelance dan biasa melakukan semua dengan gawai (mencatat ide, membuat to-do list, bekerja), melepaskan gadget, dan “meminta pikiran” untuk tenang, bukanlah hal yang mudah. Tapi cara ini benar-benar membantu saya untuk relaks dan mengistirahatkan mata. So, saran saya, cobain, deh. Mulai saja dulu selama 5 menit. Jika sudah oke, mulailah luangkan paling tidak 10-15 menit sehari.

Doing nothing juga bisa menjadi aktivitas jeda saat teman-teman perlu berpindah dari aktivitas satu ke aktivitas lainnya.

Hal lain yang saya lakukan adalah maskeran, scrubbing, rendam kaki di air hangat, dan nonton drama. Tapi untuk yang terakhir ini biasanya saya batasi 1-2 jam saja, karena saya mengamati maraton drama lebih dari dua jam, malah membuat saya pusing, dan mata berat. Dan rasanya reset routine saya sebelumnya jadi sia-sia, jadi fresh aja gitu.

Aktivitas reset routine ini biasanya saya tutup dengan nge-blog selama 1-2 jam. Kegiatannya bisa sekedar update artikel lama, membuat ingografis, atau menulis artikel baru. Khusus kegiatan ini, saya tidak mematok harus menghasilkan sekian ratus kata, atau selesai berapa subtasks. Karena ya, namanya juga kegiatan rekreasi kan? Dan saya melakukannya hanya sekedar untuk memuaskan ego saja.

Saya memilih reset routine ini sebagai bagian dari istirahat mingguan. Dan rata-rata memang ga lebih dari 4 jam. Kadang bisa blok satu hari selama 4 jam, tapi tidak jarang juga saya bagi. Bagaimanapun juga pekerjaan rutin saya tidak sedikit, dan hampir semua hal perlu saya lakukan sendiri.

Agar bisa menikmati dengan sebaik-baiknya dan tidak dihinggapi rasa bersalah, selalu rencanakan kegiatan ini di Jum’at sore atau malah masukkan saja dalam weekly planning. Kunci lainnya, jangan menilai hasilnya. Apapun yang teman-teman pilih untuk dilakukan, jangan dikritisi hasilnya. Misalnya ingin olahraga, dan hanya ada waktu untuk aerobik 20 menit; ya, ga masalah, just do it. Atau jika memilih nge-blog seperti saya, dan karena keasikan ngulik template, akhirnya ga jadi nulis. Ya udah, ga papa. It’s okay. Bahkan tulisan ini saya tulis di minggu pertama Februari dan baru publish di tanggal 21 Februari. karena ya, memang ga ditarget selesai dalam sekali duduk. Sekedar untuk have fun.

So, kalau hari-hari terakhir kemarin mulai terasa ga nyaman, coba luangkan waktu untuk reviu dan reset routine, agar esok lebih siap menghadapi hari.

Semoga bermanfaat ya, sampai jumpa di artikel produktivitas lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *