6 Cara Mengurangi Stres dan Cemas

Tiga hari lalu saya nyaris tidak mendapat satu tulisan pun.

Sebabnya, di hari senin usai laporan dan review gawean, target saya tidak tercapai sepeti yang saya inginkan, meski secara statistik, jam kerja saya lebih banyak naik berkali-kali lipat.

Di hari senin itu saya masih bisa menyelesaikan separuh artikel review JamPlay, tapi di hari selasa, hanya bisa dapat 3 outline artikel saja.

Saya tidak tahu kenapa di hari itu (selasa 4 maret 2020), saya benar-benar tidak bsia mikir. Bawaanya cuma pengen rebahan saja. Kepala berat banget kalau dibawa berdiri. Ditambah badan yang agak anget, rasa pengen mager pun menjadi dobel.

Di saat itu, mulai deh, negatif thought, dan the why’s bermuculan.

“Kok gue gini, sih, apa nggak bisa sukses dan maju seperti orang-orang”
“Duh, orang lain udah pada lari, bergerak, kok aku malah mager, sih.”
“Ini kenapa badan, nggak mau kompromi.”
“Aduh, seandainya suamiku lebih ngerti, dan mau beresin rumah. Duh, dia kok bisa baca tanda istrinya lagi lemes, sih?!”

Wah…. pokoknya enggak banget, deh.

Saya terus bilang, pokoknya aku harus dengerin badanku. Aku capek, jadi aku harus istirahat.”

Dan akhirnya, ya, saya memang memutuskan lebih banyak tiduran, tapi …. sambil scrolling hape, berpindah-pindah dari FB, WA, IG, feed berita. Dibaca semua. turuti mau hati saja.

Dan konyolnya itu malah nggak bikin saya lebih baik.

Pertama, karena milih istirahat, cucian di belakang belum di jemur, nggak masak untuk sore, cucian piring belum disentuh, dan baju kering belum dilipat. Dan semakin scrolling hp, ternyata malah bikin pikiran makin nggak karuan. mata makin pedih, grafik energi dan semangat juga makin turun.

Akhirnya stres saya membuat saya cemas, dan kecemasan saya membuat saya terbeban, dan beban itu membuat saya stres, lalu stres bikin cemas, cemas bikin beban, dan akhirnya ….. TEPPAAARRR…!!!

Cara mengurangi stres dan rasa cemas

Pokoknya kemarin itu sepertinya salah satu hari paling terburuk untuk saya, benar-benar saya berada dalam kondisi yang paling enggak banget.

Saya nggak tahu musti ngapain, tapi yang saya tahu, ini waktunya saya untuk:

#1. Mendengarkan tubuh 
Yap, saya memutuskan sekali lagi, mengikuti apa kata tubuh saya. Berhari-hari harus tidur larut, begadang karena cemas banjir dan atap yang bocor, waktunya untuk saya tidur lebih cepat dan lebih banyak.

Hal lain yang saya pilih adalah, tidak menyalakan alarm tidur.

Buat saya ini penting, karena artinya tubuh saya akan tahu kapan harus bangun jika memang kebutuhan istirahatnya telah terpenuhi.

Alhamdulillah, tetep masih bisa bangun pagi sebelum subuh. Saya bangun lebih segar pagi ini, dan tentu saja, lebih happy.

#2. Tidak melakukan apapun selama 5 menit
Seperti yang pernah saya tulis dalam artikel “Reset Routine, Cara Mengembalikan Semangat Kerja“, tidak melakukan apapun alias doing nothing, bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi stres dan cemas. Idenya adalah mengosongkan pikiran selama beberapa saat; menjadi ruangan kosong selama lima menit.

Andaikan pikiran kita ibaratkan sebuah ruangan; saat kita terus-terusan merasa stress, cemas, akan hal-hal yang harus kita lakukan, target, masa depan, atau malah masa lalu; maka ruangan tersebut akan penuh. Dan kalau sudha penuh, tentu saja ide, inspirasi baru akan susah untuk masuk kan?

#3. Melakukan hal yang disukai

Salah satu cara utnuk mengurangi stres dan cemas adalah dengan playfull out, bersenang-senang menikmati hal yang selalu ingin kita lakukan.

Idenya bisa apa saja, mencoba resep baru misalnya, menggambar, melukis, menggeser perabot rumah, apa saja.

Dan pagi ini, saya memilih untuk mencoba resep Pufflova, membuat bolu kukus Milo ala anak kos.😀 Itung-itung, sekalian masak buat bekal Hana kan?

#4. Belajar
Oke, buat saya belajar itu sudah seperti “my middle name”, sebuah kebiasaan. Tapi untuk yang ini, saya mencoba mengurangi stres dan cemas saya dengan meluangkan waktu menjawab “The why” yang memenuhi pikiran saya. Misalnya dengan membaca buku, mendengarkan podcast, membaca artikel yang saya simpan di Pocket, atau nonton video terbaru dari motivator-motivator yang saya ikuti.

Menurut saya, dengan belajar kita akan bisa belajar hal baru plus semakin mengenal diri kita; tahu apa yang kita suka dan tidak. Dan dengan semakin banyak hal baru yang kita tahu, kita juga bisa lebih mudah mencari solusi dari masalah kita.

#5. Minta bantuan
Jujur saja ya, saya tuh nggak suka mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dan akhir-akhir ini, dengan semakin banyak tanggung jawab juga beban pekerjaan, pekerjaan rumah tangga saya mulai keteteran. Saya berusaha keras untuk tetap se-ideal yang saya bisa. Tapi pada akhirnya, semua membuat saya kelelahan dan stres.

Jadi, saya pikir, mungkin ini saatnya untuk mengurangi beban saya dengan minta bantuan orang lain.

Nggak sih, tidak dengan mencari pembantu (saya belum merasa nyaman dengan hadirnya orang lain di rumah), tapi hanya meminta bantuan laundry kiloan untuk mengurangi beban setrika saya. 😁😁
Saya juga minta si Ayah untuk antar atau jemput Hana saat sedang shift siang.

Dan bener lho, minta bantuan orang lain tuh, benar-benar bisa mengurangi stres dan cemas kita. Jadi, jika memang sudah lelah banget, jangan kawatir dan malu untuk minta bantuan, ya.

Minta bantuan juga termasuk salah satu tujuan self care, lho. Self care,-memperhatikan diri sendiri,- nggak berarti kita hanya standing by our own. Kita juga perlu orang lain untuk membersamai kita, agar kita juga bisa belajar dari pengalaman mereka, dan kemudian memberikan terbaik untuk diri kita.

#6. Look within



Karena dari kemairn tidak menulis, harusnya hari ini saya menulis lebih banyak. Tapi saya memilih untuk journaling dulu. Menulis rencana, yang kemarin hanya sampai taraf orek-orekan.

Jujur saja, saya ini termasuk orang yang paling gampang nemu ide untuk tulisan. Apa saja bisa saya jadikan konten. Bahkan saat menulis artikel curhat ini pun, saya sudah dapat 2 ide tulisan lain yang terkait dengan artikel ini. Karena itu kepala saya sering banget penuh.

Ini baru masalah pekerjaan, belum masalah lain seperti hubungan kita dengan keluarga, ilmu yang saya pelajari setiap hari, masalah-masalah yang harus saya hadapi, daftar belanja, and so on.

Jadi, jika tidak dikeluarkan, suara-suara ide itu rasanya membuat kepala saya penuh. Nah, kalau sudah penuh, bisa ditebak dong, apa akhirnya? Stres.

Itulah mengapa, saya memilih journaling, karena itu sama saja dengan menuangkan apa yang ada dipikiran saya. Ini juga cara saya untuk melihat apa yang sebetulnya yang membebani saya. 

Masalah itu kan seperti mie yang saling nyambung menyambung. Maksud hati nyendok sedikit, tapi yang keangkut banyak banget. Maksud kita ingin mengurai masalah, tapi waktu ditarik satu, semua keikut.

Menulis bisa membantu kita mengurai masalah satu per satu, sehingga lebih mudah dicari apa hulu dari masalah tersebut. 

Nggak lupa, saya juga menyempatkan dulu meditasi.

Sejak banjir di akhir Febuari kemarin, saya memang tidak sempat untuk “mengheningkan” pikiran saya dulu. maksud saya agar semua pekerjaan bisa segera selesai, meski meditasi ini sebetulnya hanya butuh waktu 10-15 menit saja.

Bagi saya meditasi, atau mengheningkan diri sama arti dengan menertibkan setiap pikiran, memilah mana yang harus dilepas atau yang dipertahankan. Membantu saya lebih mendengarkan tubuh.

Journaling dan meditasi memang hal-hal yang tidak begitu mempengaruhi dalam produktivitas saya sehari-hari. Tapi dua hal kecil ini seperti memberi pondasi pada keseharian saya, sehingga saya dapat terus melakukan dan memberikan yang terbaik setiap hari.

Dan bagi saya, dua hal tersebut merupakan bentuk saya untuk lebih peduli pada diri saya sendiri (self care).

Alhamdulillah, hari saya lebih baik hari ini. Saya bisa menyelesaikan dua artikel, dan satu post blog ini. Tapi yang lebih penting, saya tidak merasa terbeban dan lebih ringan.

Oke, itulah 6 cara saya mengurangi stres dan cemas. Semoga bermanfaat, ya. Sampai jumpa di artikel self care berikutnya.

Show 1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *