Surat untuk Bapak/ Ibu Presiden tentang Hari Anak-anak Nasional

Selamat malam Ibu/ Bapak Presiden,

Hari ini tanggal 23 Juli 2016, hari yang negara tetapkan sebagai hari anak-anak nasional.

Tidak pernah ada yang istimewa bagi saya sepanjang hari Anak ini diperingati. Semua bisa saja. Peringatan semacam itu, sepertinya hanya berlaku bagi sekelompok atau segelintir orang saja. Tapi tidak untuk kami, para orangtua yang berdiri dalam kelompok grassroot.

Meskipun begitu ibu/ bapak presiden yang saya hormati, kami orangtua dari kelompok grassroot ini juga tahu, bahwa kami wajib menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kami. Sayang, keterbatasan dana kadang membuat kami tidak punya pilihan.

Ada ahli parenting yang berkata bila TV berbayar adalah tontonan lebih aman untuk anak, teman baik orangtua untuk mendidik anak. Mendengar hal itu, sudah pasti kami juga ingin. Tapi kalau melihat harga langganannya yang setara 5 kg daging sapi, apa tidak lebih baik bila kami gunakan uangnya untuk perbaikan gizi?

Ketika sekolah-sekolah negeri mulai tidak bisa menjawab kebutuhan anak-anak kami (40 murid dengan satu guru?), ingin rasanya kami membawa anak-anak kami ke boarding school. Sekolah-sekolah IT yang bisa memberi pengetahuan lebih kepada anak-anak kami.

Kami membayangkan, anak-anak kami akan disambut di sekolah dengan senyum, pulang dengan rentetan cerita, bahkan tak pernah sabar menunggu hari esok untuk sekolah (duh, orangtua mana yang tidak bahagia dengan keadaan seperti itu?). 

Tapi apa daya, uang masuknya saja sudah hampir setara satu motor yang kami pakai untuk ngojek atau jualan sayur sehari-hari. Apalagi bulanannya, mungkin kami harus makan dengan garam setiap hari, agar anak kami bisa tetap sekolah.

Bapak/ Ibu Presiden, saya hanya ingin tanya, kenapa ketika menyangkut kepentingan orang banyak, negara belum mampu memberi yang terbaik untuk masyarakatnya? Padahal negara mampu membayar para wakil di DPR puluhan juta.

Seandainya, sebagian gaji itu untuk perbaikan kualitas sekolah, apakah tidak bisa? Anak-anak ini, suatu hari nanti, merekalah yang akan membaca Pancasila, Undang-undang Dasar Negara 45, juga menyanyikan Indonesia Raya. Mereka juga yang nantinya akan membawa nama baik bangsa.

Puluhan prestasi bisa saja lahir dari pikiran dan buah karya mereka. Tak bisakah negara memuliakan mereka sedari sekarang?

Saya hanya ingin negara membuat hunian, dan kota yang lebih ramah anak. Mengatur tontonan, tayangan yang lebih ramah kepada mereka. Sinetron itu, tolong beri training para penulis skrip dan produsernya. 

Saya sungguh berharap negara bisa memberi pendidikan berkualitas yang merata untuk siapa saja. Agar kelak anak-anak kami juga akan bangga dengan Indonesia. Tidak berpikir untuk lari dari negeri ini, karena merasa negara tak mau peduli. 
Saya hanya ibu rumah tangga; jangankan masalah ekonomi kapitalis, politik, semua saya buta. Tapi sungguh, saya hanya ingin negara menjaga anak-anak muda ini, anak-anak kecil ini, para penerus dan penjaga kekuatan bangsa.

Jadi, Bapak/ Ibu Presiden, bisakah Anda wujudkan angan-angan ini?

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *