Content Writer

Cara Saya Mengatasi Writer’s Block dengan Metode Anti-Penundaan

Sejak memulai karier sebagai freelancer di tahun 2013, sudah ada beberapa jenis atau topik artikel yang saya tulis. Dulu saya mengawali karier content writing dengan menulis artikel informasi untuk Asian Parent dan Uang Teman. Kemudian berlanjut menulis artikel review (dalam bahasa Inggris) untuk situs review produk online buythiz(dot)com.

Saat itulah saya menyadari, menjadi seorang content writer berarti harus siap mengenakan banyak topi. Ada momen saya perlu menjadi seorang pemerhati keuangan, kadang parenting enthusiast. Di saat lain bisa saja saya menjadi seorang gamer, tech reviewer, penggiat kesehatan pribadi, bahkan therapist dan trainer.

Dan bagi saya, menulis yang paling berat adalah ketika saya harus memakai topi seorang coach atau trainer. Bukan masalah di bahasa atau pilihan katanya, tapi saya perlu menginternalisasi pengetahuan saya seperti para coach dan trainer tersebut.

Akibatnya, writers block pun sering muncul. Meskipun saya menyadari kewajiban seorang content writer adalah tidak berhenti belajar, tuntutan untuk menjadi “wakil” (meski hanya dari tulisan) membuat proses belajar itu terasa sebagai beban. Tidak hanya materi yang wajib dikuasai, tapi seringkali baru mulai baca buku, demi tuntutan menulis konten, saya perlu berpindah ke buku yang lain.

Beban ini juga masih ditambah dengan overthinking jika newsletter yang saya tulis perlu ada peningkatan open rate (dibaca oleh penerima); sebisa mungkin meningkatkan trafik, share, dan konversi (pembelian). Makin berjajar deh, “hakim-hakim” yang ada di kepala saya.

Saat writers block muncul, saya jadi sering mengkritisi diri sendiri, “masak sudah puluhan tahun nulis, masih juga terjebak writers block?” (yes, sometimes I am the villain for myself). Namun, di sisi lain saya juga membela diri, jika penulis senior pun bisa saja mengalami writers block. Sisi lain itu juga mengingatkan jika J.K Rawling pun pernah kesulitan saat menulis Harry Potter and the Goblet of Fire. Begitu juga dengan Ernest Hemningway, Maya Angelou, sampai Dee Lestari.

Namun, ada hal yang saya pelajari dari para penulis besar ini, mereka tidak menyerah dan berhenti menulis, melainkan mencari solusi atas writers block yang mereka alami. Ada banyak cara yang para penulis besar lakukan seperti pergi keluar rumah, mandi, menggerakkan tubuh, dan masih banyak lagi. Karenanya, saya pun berusaha mencari resep saya sendiri, agar kebuntuan menulis segera teratasi.

Menggunakan metode anti-penundaan untuk mengatasi writer’s block

Berbeda dengan para penulis buku, writer’s block pada content atau copywriter butuh segera diselesaikan. Karena umumnya hasil tulisan dari content dan copywriter punya deadline yang sangat ketat. Produksi yang kadang tanpa jeda, membuat copy dan content writer semakin rentan mengalami kelelahan mental (burnout); salah satu kondisi pemicu writer’s block.

Target-target yang harus terpenuhi seperti SEO dan konversi, semuanya seolah menjadi alasan kuat bagi content dan copywriter untuk mengalami burn out. Dan tentu saja, content dan copywriter yang burn out itu salah satunya adalah saya :>

Saat ada pengguna media sosial yang bertanya bagaimana mengatasi writer’s block, kadang saya menjawab dengan “jalan keluar rumah”, “naik sepeda keliling komplek”, “pergi ke pasar dan ngamati aktivitas jual-beli”, atau “main bersama anabul”. Tapi sayang, cara-cara tersebut tidak berhasil mengatasi masalah saya saat harus mencari ide tulisan untuk para Guru ini.

Yang pasti, saya menyadari masalahnya bukan pada tempat riset, tapi pada sistem kerja saya. Karena itu, saya perlu bersegera mencari cara untuk mengatasi writer’s block secara sistematis.

Tiga metode anti-penundaan untuk mengatasi writers block

Sebagai seorang productivity enthusiat, saya tahu betul bahwa tugas yang berat seringkali memicu penundaan. Kecenderungan ini bukan karena malas, tapi karena otak kita tidak menyukai hal-hal yang rumit.

Akhirnya saya terpikir untuk menggunakan prinsip mengatasi penundaan sebagai escape strategi dalam mengatasi writers block ini.

Saat mengalami writer’s block kemarin, saya mencoba mengamati bagaimana proses hambatan ini muncul. Biasanya ini terjadi karena saya melihat open rate yang menurun, merasa tidak mengenal behaviour para audience dengan baik, dan tentu saja, waktu pengumpulan draft yang berkejaran dengan content media sosial.

Ada 3 metode anti-penundaan yang bisa dipakai saat menghadapi tugas yang sulit, yaitu:

  1. Task batching; memecah tugas menjadi beberapa bagian
  2. Time Blocking,- mengerjakan sub-tasks dalam rentang waktu tertentu
  3. Menggunakan prinsip MVA atau Minimal Viable Action

Berikut uraian dasar pemikiran dan bagaimana saya melakukannya.

Metode #1. Task Batching (Memecah Tugas) untuk mengatasi kebuntuan ide

Tugas menulis kontent atau copy yang terasa berat, sering memicu penundaan karena tugas tersebut memicu overwhelm. Timothy Pychyl, menjelaskan penundaan atau prokrastinasi berhubungan erat dengan regulasi emosi. Penundaan merupakan upaya manusia untuk melarikan diri dari perasaan negatif (cemas, takut gagal) yang ditimbulkan oleh tugas yang rumit.

Tugas besar memicu respons stres dan kewalahan, yang diolah oleh Amigdala (pusat emosi dan ketakutan) sebagai ancaman. Otak memilih respons “Flight” (melarikan diri/menunda) dari ancaman tersebut.

Dan salah satu solusi untuk mengatasinya adalah dengan memecah tugas sulit/ besar tersebut menjadi sub-sub tasks. Dengan cara ini, otak akan melihat tugas yang pelru dikerjakan lebih kecil sehingga mudah dieksekusi.

Terkait dengan writer’s block yang saya alami, maka ada beberapa tugas yang bisa saya kerjakan saat mempersiapkan draft newsletter, yaitu:

  • Melakukan analisa statistik open rate
  • Mencoba mengenali akun penerima newsletter secara random 5-8 akun per hari
  • Melakukan riset pain point
  • Menyusun topik-topik yang bisa menjawab pain point audience.

Jujur saja, saya paling tidak menyukai analisa audience. Bagi saya, ini terasa membosankan dan saya paling ga suka kepoin hidup orang =D Apa daya, mengenali audience behaviour adalah merupakan tugas wajib bagi seorang content marketer. Karena itulah dengan menargetkan eksekusi terkecil (hanya cek 5-8 akun per hari) tugas ini menjadi terasa lebih ringan.

Metode #2. Time Blocking (mengerjakan sub-task dengan rentang waktu tertentu)

Metode ini merupakan langkah lanjutan dari langkah pertama. Dalam otak seorang penunda, sub-task yang membosankan juga memicu keinginan untuk flight. Hasilnya, seorang penunda akan selalu punya dalih untuk mengerjakan hal lain sebelum mengerjakan hal utama.

Saat ini terjadi, solusi yang bisa digunakan adalah mengerjakan sub-task tersebut dalam kurun waktu tertentu. Tujuannya untuk menciptakan small wins, keberhasilan kecil yang bisa membuat otak percaya jika “ya, aku bisa mengerjakan tugas ini” atau “oh, ternyata tugasnya ga serumit itu, ya?” Begitulah otak kita, “mudah banget terperdaya” =D

Saya biasanya memilih menggunakan teknik pomodoro dengan durasi 25 menit. Teknik ini membantu saya untuk mulai karena tahu saya cukup fokus selama dua puluh lima menit dan tugas tersebut checked Done (ya, walaupun keesookan harinya dilanjutkan juga =D).

Metode #3. Tentukan MVA atau Minimum Viable Action

Term ini sebetulnya merupakan turunan dari term MVP, Minimal Viable Product. MVP biasa digunakan pada proses penciptaan produk baru. Tujuannya untuk menghindari kecenderungan untuk menghasilkan produk yang sempurna. Di satu sisi menjadi sempurna memang baik, tapi di sisi lain, kecenderungan untuk menghasikan produk yang sempurna biasanya malah menjadikan tugas terasa berat dan akhirnya menunda.

Dalam ranah produktivitas yang terkait dengan penyelesaian pekerjaan, seringkali good enough itu baik karena prinsip ini membantu kelancaran workflow.

Terkait dengan writer’s block, menggunakan prinsip MVA membantu saya mengurangi jebakan prokrastinasi. Saya berhenti fokus pada hasil yang di luar kendali saya (seperti open rate), dan fokus pada tindakan yang bisa saya lakukan hari ini: memulai dan menghasilkan good enough draft.

Dengan ketiga cara di atas, Alhamdulillah saya bisa menyusun newsletter lebih cepat dan dapat memenuhi deadline dengan baik. Saat menulis “hakim-hakim” di kepala saya masih sering muncul, menakuti-nakuti saya jika tulisan saya tidak layak dan dangkal. Namun, karena ada keyakinan jika apa yang saya tulis itu adalah draft yang tidak ada tuntutan langsung sempurna, Alhamdulillah, saya tetap mampu menyelesaikan tugas saya.

Semoga tips berbasis produktivitas ini dapat membantu teman-teman, terutama para penulis konten, untuk mengatasi writers block dan menyelesaikan tugas.

Working from home mother, love to read book and coffee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *