alasan nggak bisa konsisten dan menunda
produktivitas

Nggak Pernah Bisa Konsisten? Mungkin Ada yang Salah dengan Pola Pikir Kamu

Sebagai seorang freelancer, saya sangat menyadari bahwa waktu adalah modal tak tergantikan. Itu sebabnya, di antara langganan artikel parenting, kesehatan, dan digital marketing, newsletter produktivitas menjadi favorit saya. Salah satu edisi dari Pattrick Buggy, pemilik situs mindfulambition.net, baru-baru ini “menampar” saya. Judulnya: “Feeling Follow Behaviour: The Key to Unlocking New Habits” — perasaan yang mengikuti kebiasaan kita; kunci pembuka kebiasaan baru.

Secara garis besar, newsletter ini membahas bagaimana perilaku kita sering tidak sejalan dengan rencana. Misalnya, semalam sudah niat mencuci baju dan menulis dua artikel. Tapi, karena tumpukan cucian hanya seperempat keranjang, saya berpikir, “Ah, besok saja!” Saya memutuskan fokus menulis. Namun, begitu kembali ke laptop, obrolan di grup WA justru seru. Alhasil, menulis sambil membalas chat. Karena merasa punya banyak waktu (rencana mencuci ditunda), jangankan dua artikel, satu pun tak selesai dari pagi hingga siang.

Pagi berikutnya, cucian sudah satu setengah keranjang, seragam anak pun habis. Ditambah hujan lebat, ada pekerjaan mendadak yang harus selesai hari itu, dan teman menelepon mau mampir sorenya. Rasanya ingin “garuk tembok”! Inilah yang Pattrick maksud dengan “Feeling Follow Behaviour”: kecenderungan manusia mengambil keputusan berdasarkan apa yang terasa nyaman saat itu juga. Para ahli menyebutnya “short-term reward”, keinginan mendapatkan imbalan instan, alih-alih imbalan jangka panjang yang lebih menguntungkan. 😀

Alasan kita susah konsisten dan solusi mengatasinya

Menurut Pattrick, manusia memiliki pola bertindak: dipikirkan, dirasakan, lalu dilakukan. Contoh tadi: saat melihat cucian sedikit, perasaan kita senang dan menganggap tidak apa-apa menundanya. Padahal, jika langsung dikerjakan, selain puas karena satu to-do list tercoret, paginya pun kita akan senang karena tak ada lagi beban baju kotor.

Sayangnya, kita sering bertindak berdasarkan perasaan tentang pekerjaan saat itu, tanpa memikirkan kelegaan nanti jika pekerjaan itu tidak ditunda. Dan sayangnya lagi, perasaan itulah yang sering menentukan apakah kita akan melakukan to-do list atau tidak.

Trik agar mulai bisa konsisten

Mengubah perilaku memang tidak mudah, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Berhenti bermain gadget 30 menit sebelum tidur, membaca Al-Qur’an selembar setiap hari, atau sekadar update blog seminggu sekali. Semakin jauh jarak antara keinginan dan kenyataan, kadang kita semakin benci dan malu pada diri sendiri. Namun, bukan berarti ini sulit diatasi.

Semakin lebar “jarak” antara keinginan dan kenyataan, kadang membuat kita semakin benci dan malu dengan diri kita sendiri.

Pattrick menyarankan untuk memulai dengan “just do it”, alias lakukan saja. Merujuk contoh di atas, jika sudah merencanakan mencuci, jangan lihat kuantitas cuciannya. Ikuti saja rencana atau jadwal yang sudah dibuat. Bayangkan, esok hari Anda akan punya waktu luang lebih banyak karena beban cucian sudah berkurang

Awal mencoba teknik ini memang berat. Kadang pikiran berperang, lebih baik mengerjakan A daripada B. Godaan “prioritas” juga mengganggu. Tapi saya terus mencoba. Saya mengingatkan diri pada salah satu prinsip Gemba Kaizen: kerjakan apa yang bisa dikerjakan lebih dulu

Alhamdulillah, pola pikir dan kebiasaan ini perlahan membantu saya mengatasi penundaan. Ini juga memudahkan saya membangun kebiasaan-kebiasaan positif lainnya.

Semoga tips di atas membantu, sampe jumpa di artikel “produktivitas” lainnya.

Rahayu Pawitri untuk rahayupawitriblog.com

4 Comments on “Nggak Pernah Bisa Konsisten? Mungkin Ada yang Salah dengan Pola Pikir Kamu

  1. Aku biasanya bingung ngatur waktu… malah gak dapat apa apa. Kalau pagi, anak anak baru berangkat sekolah, pinginnya nulis tapi terbayang bayang pekerjaan rumah. Hasilnya malah separuh separuh…Tadi pagi niat wis nulis aja tanpa mikir kerjaan rumah. Kelar 2 artikel. Ternyata kuncinya baru aku sadari dari artikelnya mbak Wiwit… kerjakan saja!
    Semoga besok juga tetap "kerjakan saja" hihihi

  2. Good luck mbak Arin. Nggak usah dipikirin panjang-panjang, kerjakan saja. Fokus pada perasaan hepi, rasa puas karena bisa coret satu to do list di hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *