ide cara membangun kebiasaan baik baca Alqurna
membangun kebiasaan baik - produktivitas

Meraih Keberkahan Waktu Lewat Membangun Kebiasaan Baik Baca Al-Qur’an di bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan paling ditunggu oleh seluruh muslim di dunia. Ada harapan mendapatkan pahala yang besar, momen silahturahmi, pulang kampung, dan libur panjang (yang dua terakhir sepertinya tradisi khusus di indonesia, ya? 😀 ).

Menyambut Ramadhan, biasanya banyak persiapan yang kita lakukan. Mulai dari melunasi utang puasa, mengumpulkan aneka resep takjil dan sahur, hingga melakukan sounding ke anak tentang makna dan aktivitas di bulan Ramadhan nanti. 

Sebagai freelancer, persiapan saya sedikit berbeda. Saya biasanya update time blocking untuk memetakan aktivitas ibadah dan pekerjaan. Fokus utama saya sejak tahun lalu adalah membangun kebiasaan membaca Al-qur’an selama 15 menit setiap selesai salat fardu, meskipun keadaan puasa.

Upaya meraih berkah waktu dengan membangun kebiasaan baik membaca Al-Qur’an

Judulnya keren, ya?  Tujuan ini bermula dari cerita guru saya, coach Darmawan Aji. Beliau pernah bertemu dengan seorang profesor yang menulis dua buku dalam bahasa arab setebal lebih dari 1000 halaman. Di tengah kesibukannya mengajar, menulis, dan mengisi kajian, bapak Profesor ini, selalu punya waktu untuk mengkhatamkan Al-Qur’an setiap minggu.

Menurut Beliau, salah satu ciri dari keberkahan waktu adalah kemampuan menyelesaikan target-target yang bermakna, meski waktu yang kita miliki terbatas.

Karena alasan tersebut, saya akhirnya juga ingin punya keberkahan waktu. Saya ingin bisa menyelesaikan apapun yang menjadi tanggung jawab saya, meskipun dalam keadaan puasa dan waktu kerja yang terbatas.

Membaca Al-Quran sebetulnya sudah menjadi bagian dalam keseharian saya. Namun, sampai saat ini, saya hanya membaca 1-2 kali dalam sehari. Harapan saya, kelak usai ramadhan, saya punya kebiasaan membaca Al Qur’an setiap habis shalat.

Inilah yang menjadi titik balik saya. Selama ini, pekerjaan saya sering keteteran saat Ramadhan karena kadar gula darah rendah yang memicu kantuk dan sulit fokus. Saya sadar, saya perlu menyiasati waktu agar tugas rumah tangga, pekerjaan freelance, dan ibadah bisa berjalan beriringan. Bagi saya, produktif sebagai muslim bukan sekadar “menyelesaikan X pekerjaan dalam waktu Y”, melainkan menyeimbangkan kebutuhan tubuh, pikiran, dan jiwa.

Arti produktivitas bagi seorang muslim adalah bisa menyeimbangkan kebutuhan tubuh (dunia), pikiran, dan jiwa. Karena itulah, seorang muslim sebaiknya mengatur aktivitas terkait dunia di sekitar waktu-waktu ibadah.

Langkah nyata membangun kebiasaan baik membaca Al-Qur’an

Saat ingin membangun kebiasaan baru (good habit), kita sering kali langsung terjun tanpa rencana. Padahal, seperti kata para pegiat produktivitas, kebiasaan baik sebaiknya direncanakan: kapan dan bagaimana ia dijalankan. Berikut adalah langkah-langkah yang saya siapkan:

#1. Menentukan tujuan besar

Mulai tahun 2025, saya ingin membiasakan diri mengkhatamkan Al-Qur’an setiap Ramadhan. Awalnya, saya pikir khatam bukanlah prioritas utama dibandingkan konsistensi. Namun, seorang teman mengingatkan bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan suci memiliki keutamaan tersendiri sebagai penyempurna puasa. Akhirnya, saya memantapkan niat: minimal menyelesaikan satu juz per hari.

#2. Menentukan performance dan process goals

Tahukah teman-teman, jika menetapakan tujuan (goals) sebetulnya ada tiga macam; process, performance, dan outcome goals?

  1. Process goals, yaitu langkah-langkah atau kebiasaan yang mendukung tercapainya performance goals
  2. Performance goals, yang artinya standar atau pencapaian spesifik yang ingin diraih
  3. Outcome goals, hasil akhir yang ingin dicapai

Seringkali, process goals tidak memiliki hubungan langsung dengan performance goals, tetapi tetap berperan penting dalam keberhasilan kita mencapai tujuan. Misalnya, jika seseorang ingin melaksanakan salat tahajud selama 20 hari dalam sebulan, maka salah satu process goals-nya bisa berupa belajar mengatur prioritas pekerjaan agar tidak perlu begadang. Mengelola waktu dengan baik mungkin tidak terkait langsung dengan tahajud, tetapi tanpa itu, kemungkinan besar sulit untuk tidur tepat waktu dan bangun dalam keadaan segar.

Dalam kasus saya, untuk mencapai tujuan mengkhatamkan Al-Qur’an, saya menetapkan process goals berupa membuat perencanaan (planning) dan melakukan tinjauan (review) harian pada time block saya. Dengan begitu, saya bisa melacak apakah target membaca satu juz per hari tercapai atau tidak, serta mencari solusi jika merasa malas atau berat membaca Al-Qur’an setelah salat.

Di sisi lain, saya merasa target khatam selama Ramadhan masih terdengar besar dan cukup berat. Saya tidak yakin bisa konsisten. Karena itu, saya meminta tips dari Mbak Arinta (pemilik blog Kayusirih dan Mamakepiting), yang tergabung dalam komunitas ODOJ (One Day One Juz).

Beliau menyarankan untuk membaca 4–5 halaman setiap selesai salat, agar dalam sehari bisa menyelesaikan 1,5 juz. Dengan cara ini, insya Allah tetap bisa khatam meskipun ada jeda menstruasi di tengah bulan.

Namun, saya masih merasa target 4–5 halaman setiap salat terlalu berat untuk saya. Akhirnya, saya memilih menetapkan target performance yang lebih realistis: membaca Al-Qur’an selama 15 menit setelah setiap salat fardu.

Menentukan performance goals dan process goals mungkin tampak sederhana, tetapi keduanya menjadi fondasi utama dalam membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan. Dengan cara ini, saya berharap bisa lebih konsisten dalam perjalanan membentuk kebiasaan membaca Al-Qur’an selama Ramadhan, dan semoga bisa terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya.

#3. Menentukan kuota terkecil

Tujuannya agar saya tidak “menghukum” diri sendiri saat target harian tidak tercapai. Mengingat saya mudah lelah saat berpuasa, saya menetapkan target minimal: “Sudah membaca Al-Qur’an minimal 10 menit dalam sehari. 

Mengapa target pencapaian terkecil penting? Target pencapaian terkecil membantu kita menciptakan momentum keberhasilan. dan inilah yang kemudian akan memberikan kita motivasi untuk terus berusaha mencapai goals-goals selanjutnya.

Islam adalah agama yang memudahkan dan mengutamakan kewajiban. Jika ada deadline pekerjaan yang mendesak, saya akan mendahulukan tanggung jawab tersebut agar tidak zalim kepada klien, namun tetap menjaga kuota terkecil ibadah saya. Seperti kata James Clear: “Reduce the scope, but stick to the goal.” (Kurangi lingkupnya, tapi tetap pegang tujuannya).

 #4. Antisipasi hambatan

Masalah terbesar saya adalah rasa kantuk menjelang Zuhur. Berdasarkan pengamatan pola energi saat puasa Senin-Kamis, saya memutuskan untuk tetap menjaga pola istirahat siang (napping) sebelum Zuhur agar bisa membaca Al-Qur’an setelah salat dalam keadaan segar.

Hambatan kedua adalah waktu Asar yang berbenturan dengan waktu memasak. Untungnya, tugas saya sekarang hanya memasak untuk anak. Strateginya: saya akan menyiapkan bahan masakan di pagi hari agar sore hari lebih santai. Menyiapkan sayur di pagi hari ternyata juga ampuh mengusir kantuk setelah Subuh!

Refleksi dari masa percobaan puasa

Sejak pulang ke Temanggung, pola aktivitas saya memang banyak berubah. Tidak seperti dulu, pekerjaan rumah tangga sekarang banyak dibantu Ibu dan Paman. Meski pekerjaan besar dan wara-wiri masih saya, tapi tetap dengan adanya Beliau berdua, aktivitas harian dan fokus saya pada pekerjaan sekarang jadi lebih baik.

Saat mencoba pola ini saat puasa sunah kemarin, saya tidak banyak mengalami kesulitan. Saya tetap bisa jalan kaki 2000-3000 langkah, tetap kuat bekerja dari jam 8-11 siang, bahkan masih sanggup bekerja di luar rumah.

Gangguan yang saya alami adalah mengembalikan fokus setelah bepergian. Misalnya saat butuh kerja di luar rumah karena ngantar ibu atau ada keperluan di PerpusDa. Begitu sampai rumah meski sudah istirahat, entah kenapa saya seperti tidak bisa fokus. Usai sholat rasanya enggan banget untuk menyentuh Al-Quran, inginnya hanya rebahan dan scrolling media sosial. Padahal saya punya target ingin khatam Al-Quran sebelum Ramadhan, agar masuk bulan Ramadhan benar-benar mulai dari juz baru.

Saya sudah mencoba self-talk dengan afirmasi, “Setiap aktivitas itu ada waktunya. Kalau ga kerjakan sekarang, besok waktumu akan berantakan“, tapi tetap hal itu juga tidak menggerakkan saya.

Saya juga coba tips James Clear saat membangun habit, bahwa apa yang kita lakukan saat membangun habit, sebetulnya adalah cara untuk membangung identitas baru. Karena itu, saya mencoba ulangi terus di pikiran “kamu mau jadi muslim seperti apa?”

Meski belum berhasil menjauhkan distraksi atau mengembalikan fokus sepenuhnya, tapi pemikiran mencoba membangun identitas baru, membantu saya lebih mengurangi durasi distraksi.

Saya tidak tahu, hendak bagaimana nanti saya menjalani puasa Ramadhan. Namun dengan pengalaman up and down saat mencoba puasa kemarin, saya berharap mampu mengatasi hambatan dan godaan dengan lebih mudah.

Bagaimana dengan pembaca RPB, persiapan apa yang sudah dilakukan untuk menghadapi bulan Ramadhan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *