Cara Berkata Tidak, Meski itu Terasa Tidak Nyaman

Cara Berkata Tidak, Meski itu Terasa Tidak Nyaman

Last Updated on: 25th April 2023, 07:19 am

Menolak atau berkata “tidak” untuk beberapa¬† terkadang menjadi ganjalan dalam relasi pekerjaan atau sosial. Sayangnya, mampu berkata “tidak” termasuk salah satu keterampilan yang mendukung produktivitas.

Misalkan saat kita sudah memiliki to-do list yang rapi, tapi karena tidak mampu menolak permintaan bantuan teman atau ajakan ketemuan, to-do list kita pun semakin panjang, dan jadwal kita pun terabaikan.

Dulu saya pernah dalam posisi tersebut. Sebagai pekerja lepas aka. freelance, saya sering dianggap punya banyak waktu karena jarang keluar rumah, dan anak masih kecil. Padahal, ya sebetulnya saya juga sama dengan para ibu pekerja lainnya.

Sampai suatu hari, saya mengalami kesulitan bangun pagi. Kepala juga terasa berat. Kalau nggak ingat Hana harus sekolah, rasanya masih ingin peluk bantal lebih lama lagi.

Penyebabnya, sudah beberapa hari saya sering lembur. Jika biasanya jam 9 (maksimal 9.30) sudah tidur, tapi tiga hari itu saya pergi tidur diatas jam 11 malam.

Sebetulnya  dari awal minggu itu, saya sudah niat pengen lembur, dan sebetulnya semua akan berjalan baik-baik saja, jika pekerjaan yang sudah saya rencanakan selesai sesuai rencana.

Sayangnya, meski sudah lembur hingga malam, malah kadang hak Hana terabaikan, tidak ada satu pun pekerjaan yang saya jadwalkan selesai. Ada beberapa hal yang membuat saya harus merelakan waktu bekerja untuk hal lain.

Tak mengapa jika itu hanya 1 atau 2 pomodoro (sekitar 1 jam), sayangnya, kadang koneksi internet membuat daftar gangguan pekerjaan saya semakin panjang.

Saya mencoba untuk mengganti waktu bekerja yang terpakai untuk pekerjaan lain di malam hari alias lembur. Tapi ya, begitulah, lembur pun ternyata tidak membuat pekerjaan saya selesai.

Dan hari-hari lembur tersebut membuat saya lelah banget! Akhirnya saya memilih melakukan jeda sejenak, dan melakukan evaluasi.

Dari evaluasi tersebut, saya menemukan, jika ada beberapa pekerjaan baru yang membuat to-do list mingguan saya semakin panjang. Sementara status pekerjaan tambahan tersebut sebetulnya bukan pekerjaan wajib, alias peran saya disitu hanya membantu.

Disaat itulah akhirnya saya sadar, it is time to stop and say “no”.

Cara berkata “tidak” dengan perasaan yang lebih nyaman

Hidup di Indonesia dengan unggah-ungguh yang masih dipegang erat, berkata “tidak” memang bukan hal yang mudah, termasuk saya. Apalagi sebagai orang Jawa, ibu seringkali mengingatkan agar lebih “menimbang perasaan orang lain” sebelum berkata-kata atau berbuat; berkata “tidak” benar-benar bukan hal yang mudah.

Untunglah sejak sadar bahwa, bertahun-tahun level hidup saya tidak benar-benar maju, saya mulai belajar berani berkata “tidak”.

Dan inilah beberapa hal yang pernah saya coba agar orang lain dapat mengerti (minimal tahu) mengapa kadang saya berkata “tidak” untuk permintaan mereka.

#1. Katakan “tidak” dengan cara lain

Saya mengawalinya dengan memberitahu orang lain tentang keseharian saya.

Sejak beberapa bulan berprofesi sebagai freelancer, saya sadar jika 15 menit saja waktu terlewat dari jadwal, maka to-do-list di hari berjalan pasti berantakan. Itulah mengapa saya punya “jam tertentu” dimana saya tidak mau diganggu (istilah produktivasnya; blocking time).

Agar orang dalam lingkaran pertemanan saya tahu kebiasaan saya itu, sesekali saya unggah to-do-list atau planning mingguan saya di halaman media sosial dan/ atau status WA.

Dengan cara itu saya ingin memberitahu siapa saja dalam lingkaran saya, jika sebagian waktu saya perlu saya gunakan untuk bekerja.

Alhamdulillah cara ini cukup berhasil. Saat ini jika ada yang hendak menelpon atau sekedar mengajak ngobrol biasanya bertanya dulu, “Lagi free, nggak?“, “Jam istirahat nggak, nih?” atau malah janjian dulu, “Weekend aku mau ngobrol, ye“. 😀

Berterus terang tentang keberatan kita kadang membantu berkata "tidak"
Berterus terang tentang kesulitan kita, kadang membuat orang mengerti mengapa kita berkata “tidak”

#2. Berikan saja alasan

Pengalaman lain, saat kemarin seorang kawan mengajak untuk berolahraga bersama.

Sayangnya, olahraga rutin yang biasa kawan saya lakukan ini durasinya terlalu lama, sehingga saya malah kelelahan dan tidak bisa melanjutkan aktivitas di hari berjalan.

Akhirnya, ketika ia mengajak olahraga bareng lagi, saya katakan saja keberatan saya apa adanya.

Jujur ada sedikit perasaan tidak enak waktu itu. Kita semua tahu, mengatur jadwal, punya time-table, masih belum terbiasa di masyarakat kita. Jadi, rasanya agak gimana gitu he he he. Saya seolah menjadi makhluk yang anti sosial.

Tapi memberikan alasan yang tepat ternyata benar-benar “menyelamatkan” semuanya, lho. 😀 Jadi cobalah, katakan saja apa alasan yang membuat Sahabat keberatan.

#3. Ulur waktu

Kadang perasaan ingin menolak muncul tanpa alasan yang jelas, sekedar tidak ingin saja.

Saya punya dua cara untuk mengatasi hal ini.

Bila momen tidak nyaman tersebut terjadi dalam komunitas, biasanya saya hanya diam saja, nggak komen apa-apa. Jika nanti sudah diputuskan, dan ternyata saya punya kewajiban, baru saya sampaikan keberatan saya.

Nah, jika momen tidak enaknya terjadi dalam hubungan personal, saya lebih suka mengulur waktu. He he he. Misalnya dengan bilang, “Aku mikir dulu, deh“, atau “Aku cek jadwal dulu, ye…“.

Nge-gantung jawaban alias PHP sebenarnya bukan hal yang baik (nyebelin yang pasti), tapi dengan mengulur waktu, kita bisa mengumpulkan keberanian untuk akhirnya berkata “tidak”.

#4. Awal dengan kata “terima kasih”

Aslinya nih, kabar buruk akan selalu jadi kabar buruk, jawaban “enggak” tetap akan terasa tidak enak. Tapi kita bisa mengurangi kadar “ketidak enakan” tersebut dengan cara mengucapkan terima kasih.

  • “Terima kasih sudah meluangkan waktu, …”,
  • “Terima kasih sudah bersedia mengundang, …”,
  • “Terima kasih sudah mempertimbangkan dan mikirin aku …” dan seterusnya.

#5. Pakai intro 😊

Masih belum cukup berani langsung bilang enggak? Coba awali dengan kalimat lain,

Aku tertarik sih, tapi …
Gimana ya, aku nggak berani kalau harus, ...”
Hmm… kayaknya bisa sih, cuma aku ...”

Gimana, cukup nggak untuk latihan berkata “tidak”? Semoga cukup, ya.

Tahu sih, bagi sebagian kita berkata “tidak” itu memang benar-benar berat. Pokoknya bisa jadi beban seumur hidup. Tapi menurut saya, daripada kita menyesal nanti dan akhirnya malah benci diri sendiri karena nggak bisa tegas, lebih baik mulai belajar deh, cara berkata tidak meski di awal terasa tidak nyaman.

Semoga membantu, ya … sampai jumpa di artikel produktivitas lainnya.

Rahayu Pawitri untuk rahayupawitriblog

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *